Saya selalu menghargai setiap tindakan positif yang dilakukan orang lain kepada saya/kami. Apalagi, jika tindakan itu dilakukan dengan setulus hati, saya sangat berterima kasih kepada dia/mereka.
Asih..dia adalah nama baby sitter Joseph. Dia berasal dari Kebumen, dan saat ini dia berumur 35 tahun. Banyak pelajaran berharga yang kudapatkan dari perjalanan hidupnya.
Sama seperti working mom yang lain, saya sempat mengalami dilema apakah harus menjadi full time mommy atau jadi urban mommy. Disaat seluruh usaha telah saya lakukan dan tidak ada hasil yang kelihatan, disaat itulah saya mulai pasrah. Dan disaat itu jugalah Tuhan bekerja dan mengirimkan Asih kepada kami untuk menjaga anak kami, Joseph. Bagi saya, Asih adalah jawaban atas doa sejak saya hamil.
Asih sudah menikah. Dia memiliki 2 orang anak laki-laki bernama Tio dan Riko. Suaminya bertani dikampung dan menjaga kedua anak mereka.
Suatu malam ketika Asih mengurut badan saya, iseng-iseng saya menanyakan detail mengenai kehidupannya.
Asih anak tunggal. Ketika dia berusia 3 tahun, ibunya meninggal dan ayahnya menikah lagi. Sejak hari itu dia tidak pernah melihat ayahnya lagi. Dia dirawat dan dibesarkan oleh neneknya yang bekerja sebagai dukun beranak di kampung mereka.
Karena keterbatasan ekonomi, pada usia 10 tahun Asih memutuskan untuk berhenti sekolah dan mulai bekerja sebagai pembantu di salah satu salon di daerah Jakarta.
Hati saya terasa teriris membayangkan anak 10 tahun bekerja sebagai pembantu di tempat yang benar-benar asing dan jauh dari lingkungan tempat tinggalnya. Kebumen - Jakarta.
Sejak saat itu dia terbiasa mulai terbiasa bekerja menjadi PRT dari satu rumah tangga ke rumah tangga yang lainnya. Berdsarkan ceritanya, saya lihat Asih merupakan orang yang betahan. Minimal dia kerja 2 tahun di salah satu keluarga yang dibantunya. Dia pernah kerja cukup lama di rumah batak. Pantas saja dia tidak asing dengan masakan daun ubi tumbuk, arsik, dan bahkan daging babi.
Asih juga tidak fanatik. Dia cukup memahami situasi kami yang terkadang memakan daging babi. Walaupun sebenarnya kamipun jarang sekali makan daging babi.
Sebelum bekerja dengan kami, dia telah bekerja selama 4 tahun dirumah bule (istrinya jawa) di daerah pluit. Makanya tak heran juga Asih bisa bernyanyi lagu gereja anak-anak seperti "
Happy ye ye ye..Saya senang jadi anak Tuhan". Dia berhenti karena mereka pindah ke luar negri.
Asih sudah bekerja 4 bulan dengan kami. Selama 4 bulan ini, saya perhatikan dia cukup telaten mengurus anak saya mulai dari Joseph bangun pagi sampai tidur malam.
Pagi-pagi (jam 5.30) begitu saya, suami, dan Joseph bangun, Asih sudah selesai menyiapkan sarapan buat kami. Joseph langsung diberi minum air hangat kemudian sarapan. Setelah itu dia langsung mandi air hangat dan bermain sampai sekitar jam 8 pagi. Setelah itu diberi minum susu dan tidur sampai sekitar jam 10. Setelah itu jadwal makan buah atau puding. Setelah itu bermain-main sampai jam 12 dan langsung makan siang. Jadwalnya teratur sekali sesuai dengan jadwal yang sudah saya sampaikan di awal. Sorenya, Joseph tidur lagi sampai jam 3. Setelah itu makan buah/puding lagi. Bermain lagi. Mandi sore. Bermain. Dan makan malam.
Saya selalu pesankan supaya dia jangan menidurkan Joseph sebelum saya pulang. Jadi Joseph selalu tertidur setelah lelah bermain dengan saya. Begitulah rutinitas setiap senin sampai jumat.
Sabtu dan minggu Joseph seutuhnya bersama saya dan suami. Ya, memang terkadang masih ada bantuan Asih yang saya perlukan tapi itu hanya bantuan-bantuan kecil seperti membuatkan susu, menghangatkan makanan.
Bagaimana dengan pekerjaan beberes rumah, cuci gosok, dan masak? Hmm..saya sudah serahkan kepada Mba Imah yang sudah ikut saya sebelumnya.
Bagi saya, mereka yang bersentuhan langsung dengan saya adalah mereka yang paling banyak mendapatkan kasih saya secara langsung. Saya tetap mengasihi mereka yang membutuhkan, terlepas dari bersentuhan langsung atau tidak, tetapi saya rasa mereka yang memberikan kontribusi nyata dalam hidup merupakan orang-orang yang akan menjadi prioritas utama.
Saya sudah mengalami betapa repotnya hidup tanpa kehadiran mereka.
Sebelum kehadiran mereka, setiap hari saya harus bangun jam 5 pagi, agar dapat beberes untuk anak, suami, dan diri sendiri. Sungguh terasa sangat kerepotan. mengurus 3 orang sekaligus dalam waktu yang sangat sempit. Belum lagi perjalanan ke kantorpun memakan waktu lama karena macet. Sehingga selama 5 bulan lebih saya telat ke kantor setiap hari. Saya dapat surat teguran 2x akibat ketidakdisiplinan saya. Teman-teman kantor pun suka meledek dengan candaan yang kalau ditanggapi serius bisa membuat hati ini ingin teriak. Sungguh kerepotan sekali.
Selain itu, saya tidak pernah memiliki waktu untuk diri sendiri.Selama 5 bulan itu penampilan saya sangat '
natural' baik itu mau ke kantor atau ke kondangan. Saya kelihatan kusut sekali.
Sampai akhirnya, dengan berat hati saya menitipkan Joseph ke oppungnya selama 1 bulan di Siantar. Tapi pilihan saya itu bukanlah solusi sebab hampir setiap malam saya menangis karena merasa bersalah dan merindukan Joseph.
Saya yakin Joseph pasti dijaga dengan sangat baik oleh orang tua saya. Tapi dia adalah belahan hati saya. Bagaimana saya bisa tidur dan tertawa ketika anak saya tidak ada disisi saya? Selama satu bulan itu kondisi saya bukannya membaik. Saya merasa seperti kehilangan semangat dan suka cita. Saya merasa separuh diri saya ikut dibawa ke siantar. Inilah masa paling kelam dalam hidup saya. Saya berjanji selelah apapun fisik saya, ternyata tidak ada yang lebih baik dari kebahagiaan memeluk dan melihat senyum anak saya setiap hari. Walaupun waktu ketemu kami sedikit, tapi tidak ada yang dapat menggantikan kebersamaan walaupun hanya 2 jam setiap hari. At least, weekend I'm a full time mommy for him.
Desember 2012 saya putuskan pulang ke Medan/Siantar untuk menjemput anak saya. Saya merasa sangat bahagia ketika melihat dia sehat dipangkuan oppungnya. Ada perasaan sedih ketika dia menolak memelukku. Tapi dengan insting kami masing-masing, akhirnya dia memeluk saya dan menatap saya dengan sangat dalam. Seakan-akan mencoba mengingat wajah saya yang terasa familiar. "
Yes, this is mommy my son... Ini mama tondiku...hasianku...". Kucium kening dan pipinya berulang-ulang sambil meneteskan air mata.
Saya berjanji dan bertekad bahwa tidak akan pernah berpisah dengan Joseph lagi. Hanya karena egois ingin mengambil waktu untuk diri sendiri, masa anakku harus kehilangan sentuhan dari mama dan papanya?
Dan dengan kehadiran Asih (dan Imah), janji saya dapat terwujud. Saya tau bahwa biaya yang saya keluarkan untuk mereka cukup besar. Namun itu sebanding dengan ketenangan hati dan kebersamaan yang saya harapkan setiap hari.
Terima kasih Asih. Apa yang kamu berikan lebih besar nilainya jika dibanding dengan materi apapun.
Terima kasih Tuhan..karena Engkau telah mengirimkan mereka untuk membantuku dalam menjalani kehidupan ini. Didiklah aku agar dapat memperlakukan mereka dengan adil.
Dan sentuhlah hati mereka agar selalu menyayangi anakku Joseph.. Dan jagalah Joseph selama kami orang tuanya berada di kantor.
Amin