Monday, January 16, 2017

I Love You

Awalnya kupikir, bahwa cintaku yang paling besar adalah untuk suamiku. Itu sih dulu sebelum aku memiliki anak. Ternyata, cintaku lebih lagi besar kepada anakku, Joseph. Kurasa hampir semua ibu akan sependapat denganku.

Aku selalu terpesona dengan semua yang ada di dirinya. Mulai dari rambut, mata, alis, telinga, hidung, semuanya sampai keujung kaki bahkan gigi ompongnya pun membuatku terpesona hehe. Ditambah lagi pribadinya yang penyayang, lembut, ga rewel, dan walaupun sesekali suka memaksa (maklum kan masih balita), tetap saja membuatku terpesona.

Hampir setiap malam sepulang kantor aku melihat dia lelap tertidur di kamar. Dan aku pun tidak pernah bosan memandang dan mencium pipinya yang gembul spt bakpao hehe.

Kupandangi wajah lelapnya. Aku sangat jatuh cinta dengan pria kecilku ini.

Setiap kali aku melihatnya, setiap kali juga aku bersyukur kepada Tuhan atas kehadirannya dihidup kami. Aku selalu mendoakan yang terbaik buatnya.

Setiap malam, kubisikkan doa tidur ke telinganya sebelum aku istirahat. Kubisikkan juga bahwa aku dan suamiku sangat menyayanginya serta selalu mendoakannya setiap saat. Semoga bisikanku membuatnya tertidur semakin lelap dan bermimpi indah.

Cintaku padanya akan selalu abadi. Kasih ibu kepala anaknya.

"Be a great man with a great heart, ya anakku"

I love you

Thursday, April 17, 2014

"Ya ampun.."

Setelah sekian lama, akhirnya saya 'ingat' kembali untuk corat coret di blog ini.

Postingan terakhir saya menceritakan anak saya yang masih berusia 1 tahun. Nah, sekarang jagoanku itu sudah berusia 2 tahun. Tak terasa waktu cepat berlalu.
Rasanya senang sekali melihat tumbuh kembang anakku yang luar biasa. Walaupun setiap hari saya harus berangkat pagi dan pulang malam untuk bekerja tetapi saya tetap bersyukur bahwa kami masih memiliki waktu setidaknya satu dua jam untuk bermain-main sebelum tidur malam.

Diusianya yang 2 tahun ini sudah banyak sekali perkembangan yang dijalaninya. Dan saya sangat bangga bahwa dalam beberapa hal dia lebih cepat dibanding teman seusia bahkan sama yang lebih tua satu tahun dari dia.

Misalnya, dia sudah pintar meminta dan mengingatkan saya dan suami untuk berdoa sebelum tidur. 'Mammah, pappah oa' (maksudnya: mama papa ayo berdoa).
Sebelum tidur minta dinyanyiin lagu2 seperti 'twinkle twinkle', 'king kong' (lagu sekolah minggu), 'bintang kecil', 'you are my sunshine', 'met met au on' (lagu batak), dan yang terakhir lagu 'gajah' (ciptaan saya sendiri :D). Dia selalu mengikuti lagu tersebut sepenggal2 sampai dia tertidur pulas. Lucu rasanya ketika mendengar dia ikut bernyanyi sepenggal2 sambil ngantuk sampai tertidur nyenyak,

Hampir mengenal seluruh jenis hewan! Sejak Joseph berumur 6 bulan saya menempelkan beberapa gambar hewan didipan sandaran termpat tidur. Dan biasanya saat saya bermain-main dengannya di tempat tidur, saya sering sekali memperkenalkan hewan-hewan tersebut. Dan suatu hari sebelum tidur malam (usianya masih 22 bulan), didalam kamar yg remang-remang (karena setiap mau tidur kami selalu mematikan lampu), dia menunjuk gambar hewan satu per satu sambil menyebutkan nama hewan tsb. WOW!!! Saya dan suami saling tatap senang melihat betapa cerdasnya anak kami.

Masih banyak 'WOW' yang lain yang ingin saya ceritakan tapi ada 1 hal yang membuat saya sangat gemes melihat perkembangan anak saya, yaitu ketika dia mengatakan "Ya ampun..." ketika dia merasa sesuatu yang diluar kehendaknya.

Seperti tadi malam kami bertiga ada didalama kamar. Saya dan suami sedang berbicara tentang beberapa hal, sementara Joseph sibuk main mobil-mobilan dilantai, dibawah meja kerja suami saya. Sambil berbicara dengan suami, saya selalu memperhatikan gerak gerik anak saya. Saya takut kalau-kalau dia kepentok ke meja. Dia asik sekali bermain me-maju mundur-kan mobil tersebut dengan tangannya. Begitu mobilnya dilepas, ternyata mobilnya melesat lurus cepat dan langsung menambrak tembok kamar dengan suara agak kencang. Saya dan suami terdiam dan memperhatikan gerakannya.
Pelan-pelan dia keluar dari kolong meja dan berjalan menuju mobil-mobilan tsb. Begitu dia sampai didekat mobil, dia menunduk dan mengambil mobil tersebut sambil mengucapkan "Ya ampun...." sambil mengusap-usap  bagian depan mobil yang terbentur tembok. "mobin na tabakan ya" (maksudnya:mobilnya tabrakan ya). sambil menunduk melihat bagian depan mobil yang terbentur ke tembok.
Saya dan suami langsung saling tatap sambil menahan tawa.. Lucu sekali mendengar dia mengucapkan "ya ampun..." untuk mengungkapkann hal yang tidak disangka-sangka olehnya. Seperti orang dewasa aja :)

Kalimat "ya ampun..." yang terucap dari bibir mungilnya memang menggemaskan sekali.
Mama bangga sekali dengan pertumbuhanmu anakku sayang! Mmmmuachhh....

Sehat selalu ya nak, tumbuh menjadi berkat dan selalu diberkati!
Mom loves you..

Wednesday, December 18, 2013

Makna Natal 2013 "Kesederhanaan"

Sebelum pagi ini, saya sudah memiliki beberapa rencana untuk mengisi natal tahun 2013 ini. Saya dan suami sungguh bahagia bisa merasakan natal ke-2 bersama anak kami terkasih. Saat ini usianya memasuki 21 bulan dan perkembangannya sungguh luar  biasa.
Saya sudah merancang banyak hal seperti membeli pohon natal yang besar dan menghiasinya dengan aksesoris yang meriah, mendekorasi rumah dengan nuansa natal, membeli pakaian seragam buat kami bertiga, membeli hadiah natal untuk suami dan anakku, membeli/memesan kue natal dan tahun baru, membuat jamuan malam natal dan jamuan tahun baru bersama keluarga, dan masih banyak lagi. Tanpa saya sadari rencana saya mengenai natal mengarah kepada pesta, kemegahan, dan kemeriahan.

Pagi ini dalam perjalanan menuju kantor, saya membuka halaman facebook dan melihat beberapa status dan komentar teman-teman saya yang terbaru. Tiba-tiba saya tertarik melihat satu foto anak-anak afrika yang diupload oleh adik kelasku "Dameria Veronika Manurung".
Foto diatas menegur saya dengan keras karena disaat saya berencana menghiasi natal dengan pesta dan kemeriahan, disaat yang sama pula ditempat/dibelahan bumi yang lain masih banyak saudara kita yang tidak dapat merayakan pesta natal karena mereka hidup dalam kemiskinan dan kelaparan. Seperti gambar anak diatas, hati saya perih melihat keenam anak diatas karena tidak memiliki pakaian, tinggal ditempat tandus, dan meminum air dengan tidak layak. Dan melihat badan mereka yang kurus, saya yakin mereka kelaparan.
Mungkin dengan mendapatkan minuman seperti gambar diatas mereka sudah sangat senang dan mungkin sudah mengucap syukur berulang-ulang kepada Tuhan. Padahal itu hanya air mentah untuk diminum. Itupun masih bisa dikatakan belum layak untuk diminum. Belum lagi mengenai makanan, pakaian, rumah, dsb. Air adalah salah satu aspek primer dalam kehidupan.
Bagaimana dengan saya? Apakah saya sudah mensyukuri apa yang ada pada saya? Saya memiliki makanan dan minuman yang lebih dari cukup, pakaian yang layak, rumah yang hangat, kendaraan yang layak, dan jadwal liburan yang terencana.

Tuhan..sungguh berkatMu luar biasa didalam kehidupan kami. Engkau telah mencukupkan kami untuk memenuhi kebutuhan kami. Tuhan..jadikanlah kami sebagai penyalur berkatMu ya Bapa... Jadikan kami berkat kepada saudara-saudara kami yang tidak mampu seperti anak-anak yang ada didalam gambar diatas. Sentuh hati kami untuk selalu mengingat saudara-saudara kami yang miskin, kelaparan, dan yang hidup dalam penindasan.

Seketika makna natal yang ada didalam diri saya berubah. Saya ingin memaknai natal tahun ini dan tahun-tahun kedepannya dengan kesederhanaan dan dapat berharap dapat menjadi berkat kepada mereka yang membutuhkan.
Saya bertekad untuk dapat melakukan sesuatu kepada mereka. Seberapa kecilpun itu, saya harus menjadi berkat kepada sesama. Bukan hanya saya, tetapi saya akan membawa keluarga saya (suami dan anak saya) menjadi berkat kepada sesama.

Rencana-rencana untuk membeli pohon natal yang megah, aksesoris natal, pakaian, jamuan makan malam direstoran akan diubah menjadi pohon natal yang sederhana dan makan malam keluarga di rumah dengan menu sederhana. 
Bahkan Sang Juruslamat Yesus Kristus, lahir didalam kesederhanaan yaitu didalam palungan didalam kandang. Dengan kedatanganNya Yesus telah mengajarkan kesederhanaan kepada manusia. Hanya saja manusia sering memaknai natal dengan pesta dan kemeriahan atas kedatangan Juruslamat.

Saya tetap bersukacita akan natal tetapi saya mulai memaknai natal dengan kesederhanaan dan berharap dapat menjadi berkat bagi sesama.


Selamat Natal 2013...
Tuhan Yesus memberkati

Sunday, May 12, 2013

Didiklah anakmu, maka ia akan memberikan ketentraman kepadamu. (Amsal 29:17)

Seperti biasa, kegiatan rutin saya sesampai di kantor adalah membuka komputer dan membuka halaman renunganharian.net sebelum memulai aktifitas kerja. Saya berdoa, berharap, dan berusaha mengizinkan firman Tuhan memasuki hati dan pikiran saya setiap hari.

Pagi ini, untuk kesekian kalinya saya merasa ditegur kembali oleh firman Tuhan.

Didiklah anakmu, maka ia akan memberikan ketentraman kepadamu. (Amsal 29:17)

Seorang ibu sedang membersihkan kulkas ketika anaknya yang berusia empat tahun mendatanginya.

Anak itu membawa majalah dan menanyakan sesuatu. Ibu itu bergegas mencuci dan mengeringkan tangan, duduk di kursi, memangku anak itu, dan menghabiskan waktu selama sepuluh menit untuk menjawab pertanyaan anaknya. Seorang tamu yang melihatnya berkata, “Kebanyakan kaum ibu tidak mau diganggu saat ia mengerjakan sesuatu.” Ibu itu menjawab, “Saya masih dapat membersihkan lemari es itu selama sisa hidup saya, tetapi pertanyaan anak saya tadi mungkin tidak akan pernah terulang lagi.”

Sebagai orangtua, kadang kita tidak memiliki waktu yang cukup untuk keluarga dan anak-anak. Pekerjaan dan kesibukan yang menumpuk lebih menyita perhatian kita. Kapan kita memperhatikan perkembangan anak? Biasanya kita baru turun tangan ketika anak mulai menimbulkan masalah, lalu kita marah-marah pada mereka. Jarang kita memiliki waktu untuk berkomunikasi dengan tenang, lemah lembut, dan dari hati ke hati.

Adakah kita menyadari, anak membikin onar kadang-kadang karena kurangnya perhatian dan kasih sayang kita? Betapa sedihnya mereka, untuk menarik perhatian kita saja mereka harus membuat masalah dulu. Mereka harus bersaing dengan setumpuk kertas proyek, deposito di bank, kedudukan, karier, dan prestise yang kita kejar. Mengapa kita tidak meluangkan waktu khusus untuk mereka? Kesempatan kita untuk memperhatikan mereka terbatas. Kita tidak ingin kehilangan kesempatan yang berharga itu, bukan?—PK

PERHATIAN DAN KASIH SAYANG KITA KEPADA ANAK-ANAK
MENUNJUKKAN PENGHARGAAN PADA TUHAN YANG MENGARUNIAKAN MEREKA
**taken from http://www.renunganharian.net/2013/37-mei/653-lebih-berharga.html

Sebenarnya ketika melihat kutipan ayat Amsal 29:17 diatas, hati saya seperti ditusuk jarum. Dan ketika membaca ilustrasinya, saya ingin menangis karena saat ini saya sedang berada di posisi seorang ibu yang sedang mengejar karir, kedudukan, setumpuk proyek, dll. Saya tidak ingin anak saya bersaing dengan pekerjaan untuk mendapatkan kasih sayang saya.
Saya segera menghapus air mata sebelum jatuh atau dilihat oleh rekan kerja lain.

Kembali saya me-review aktifitas saya mulai dari bagung pagi sampai tidur malam.
Setiap pagi saya bangun jam 5:30 dan menyempatkan bermain dengan Joseph selama 20-30 menit. Setelah itu sekitar jam 6:30 saya berangkat kantor. Sekitar jam 7:40 - 8:00 pagi saya sudah sampai di kantor.
Saya sampai di rumah sekitar jam 19:00 - 19:30 malam. Itupun kalau saya pulangnya sekitar jam 5:30. Kalau lewat dari situ, nyampe rumahnya bisa lebih malam.

12 jam saya tidak bertemu dengan anak. Senin-Jumat, kami memiliki waktu sekitar 1 - 2 jam untuk bercanda sebelum saya berangkat kantor dan sesudah pulang kantor. Selebihnya dia bermain dan ditemani nanny nya.

Sebagai seorang ibu, saya ingin sekali berhenti bekerja dan sepenuhnya mengurus anak, suami, dan rumah. Saya ingin menemani dia setiap hari dan membantu tumbuh kembangnya. Tetapi disisi lain, ada keadaan yang mendesak saya harus tetap bekerja.
Seperti misalnya penghasilan saya tiap bulan bisa dipakai untuk membantu memenuhi kebutuhan operasional bulanan keluarga dan untuk tabungan.
Selain itu, orang tua saya menyarankan agar saya tetap produktif bekerja karena sayang sekali apabila tidak memanfaatkan usia produktif.
Ada faktor adat juga yang menjadi pertimbangan. Maklum, saya berasal dari keluarga batak yang masih tradisional banget.
Intinya, saya ingin sekali merawat anak saya disetiap detik perkembangannya. Namun ada hal eksternal yang menuntut saya tetap bekerja.

Setiap Sabtu, Minggu atau hari libur lain saya selalu berusaha mengurus anak full day. Saya menyalurkan kasih saya sepenuhnya untuk menggantikan 5 hari kerja sebelumnya. 

Kembali saya merenung...
Sudah sepantasnya saya menemani anak di rumah.
Saya akan mencari cara lain agar saya bisa tetap di rumah tetapi tetap dapat produktif bekerja tapi tidak menyita waktu untuk anak.

Tuhan Yesus..bukakanlah jalan untuk anakMu ini...



Kisah Nama

Siang ini saya terpanggil untuk membuka website renunganharian.net. Sejujurnya saya jarang sekali membuka website ini. Tetapi hari ini rasanya ada kerinduan untuk membuka halaman web tersebut.

Ayat renungan hari ini adalah "Kisah Nama"

Dahulu memang dia tidak berguna bagimu, tetapi sekarang sangat berguna baik bagimu maupun bagiku. (Filemon 1:11)
Nama adalah doa! Demikian kata orangtua. Dalam suratnya kepada Filemon, Paulus juga memaknai nama secara menggelitik.

Kisah ini menceritakan seorang bernama Onesimus (berarti "berguna") yang lari dari tuannya, Filemon (berarti "yang mengasihi"), dan bertobat setelah bertemu dengan Paulus di penjara. Filemon sudah menganggap Onesimus menjadi tidak berguna sejak meninggalkannya. Akan tetapi Paulus menganggap dia menjadi orang yang berguna karena pertobatannya.

Dari renungan tersebut, saya memaknai bahwa setiap nama itu adalah baik.

Siapa pun nama kita, pertobatan membuat kita menjadi berguna! Tak ada ukuran tentang seberapa indah suatu nama; yang penting adalah seberapa besar kita berguna bagi sesama. Di dalam Tuhan, kita berguna ketika kita “menghibur hati seseorang di dalam Kristus” (ay. 20). Sudahkah kehadiran kita menghiburkan hati sesama? Atau malah sebaliknya, kehadiran kita membuat mereka berduka? Mari kita menjadi orang yang berguna oleh anugerah Kristus, yang memanggil kita dalam karya-Nya!


Monday, May 6, 2013

Asih.. dan pertolongan yang tepat waktu

Saya selalu menghargai setiap tindakan positif yang dilakukan orang lain kepada saya/kami. Apalagi, jika tindakan itu dilakukan dengan setulus hati, saya sangat berterima kasih kepada dia/mereka.

Asih..dia adalah nama baby sitter Joseph. Dia berasal dari Kebumen, dan saat ini dia berumur 35 tahun. Banyak pelajaran berharga yang kudapatkan dari perjalanan hidupnya.

Sama seperti working mom yang lain, saya sempat mengalami dilema apakah harus menjadi full time mommy atau jadi urban mommy. Disaat seluruh usaha telah saya lakukan dan tidak ada hasil yang kelihatan, disaat itulah saya mulai pasrah. Dan disaat itu jugalah Tuhan bekerja dan mengirimkan Asih kepada kami untuk menjaga anak kami, Joseph. Bagi saya, Asih adalah jawaban atas doa sejak saya hamil.

Asih sudah menikah. Dia memiliki 2 orang anak laki-laki bernama Tio dan Riko. Suaminya bertani dikampung dan menjaga kedua anak mereka.
Suatu malam ketika Asih mengurut badan saya, iseng-iseng saya menanyakan detail mengenai kehidupannya.
Asih anak tunggal. Ketika dia berusia 3 tahun, ibunya meninggal dan ayahnya menikah lagi. Sejak hari itu dia tidak pernah melihat ayahnya lagi. Dia dirawat dan dibesarkan oleh neneknya yang bekerja sebagai dukun beranak di kampung mereka.
Karena keterbatasan ekonomi, pada usia 10 tahun Asih memutuskan untuk berhenti sekolah dan mulai bekerja sebagai pembantu di salah satu salon di daerah Jakarta.
Hati saya terasa teriris membayangkan anak 10 tahun bekerja sebagai pembantu di tempat yang benar-benar asing dan jauh dari lingkungan tempat tinggalnya. Kebumen - Jakarta.

Sejak saat itu dia terbiasa mulai terbiasa bekerja menjadi PRT dari satu rumah tangga ke rumah tangga yang lainnya. Berdsarkan ceritanya, saya lihat Asih merupakan orang yang betahan. Minimal dia kerja 2 tahun di salah satu keluarga yang dibantunya. Dia pernah kerja cukup lama di rumah batak. Pantas saja dia tidak asing dengan masakan daun ubi tumbuk, arsik, dan bahkan daging babi.
Asih juga tidak fanatik. Dia cukup memahami situasi kami yang terkadang memakan daging babi. Walaupun sebenarnya kamipun jarang sekali makan daging babi.

Sebelum bekerja dengan kami, dia telah bekerja selama 4 tahun dirumah bule (istrinya jawa) di daerah pluit. Makanya tak heran juga Asih bisa bernyanyi lagu gereja anak-anak seperti "Happy ye ye ye..Saya senang jadi anak Tuhan". Dia berhenti karena mereka pindah ke luar negri.

Asih sudah bekerja 4 bulan dengan kami. Selama 4 bulan ini, saya perhatikan dia cukup telaten mengurus anak saya mulai dari Joseph bangun pagi sampai tidur malam.
Pagi-pagi (jam 5.30) begitu saya, suami, dan Joseph bangun, Asih sudah selesai menyiapkan sarapan buat kami. Joseph langsung diberi minum air hangat kemudian sarapan. Setelah itu dia langsung mandi air hangat dan bermain sampai sekitar jam 8 pagi. Setelah itu diberi minum susu dan tidur sampai sekitar jam 10. Setelah itu jadwal makan buah atau puding. Setelah itu bermain-main sampai jam 12 dan langsung makan siang. Jadwalnya teratur sekali sesuai dengan jadwal yang sudah saya sampaikan di awal. Sorenya, Joseph tidur lagi sampai jam 3. Setelah itu makan buah/puding lagi. Bermain lagi. Mandi sore. Bermain. Dan makan malam.
Saya selalu pesankan supaya dia jangan menidurkan Joseph sebelum saya pulang. Jadi Joseph selalu tertidur setelah lelah bermain dengan saya. Begitulah rutinitas setiap senin sampai jumat.
Sabtu dan minggu Joseph seutuhnya bersama saya dan suami. Ya, memang terkadang masih ada bantuan Asih yang saya perlukan tapi itu hanya bantuan-bantuan kecil seperti membuatkan susu, menghangatkan makanan.

Bagaimana dengan pekerjaan beberes rumah, cuci gosok, dan masak? Hmm..saya sudah serahkan kepada Mba Imah yang sudah ikut saya sebelumnya.

Bagi saya, mereka yang bersentuhan langsung dengan saya adalah mereka yang paling banyak mendapatkan kasih saya secara langsung. Saya tetap mengasihi mereka yang membutuhkan, terlepas dari bersentuhan langsung atau tidak, tetapi saya rasa mereka yang memberikan kontribusi nyata dalam hidup merupakan orang-orang yang akan  menjadi prioritas utama.

Saya sudah mengalami betapa repotnya hidup tanpa kehadiran mereka.
Sebelum kehadiran mereka, setiap hari saya harus bangun jam 5 pagi, agar dapat beberes untuk anak, suami, dan diri sendiri. Sungguh terasa sangat kerepotan. mengurus 3 orang sekaligus dalam waktu yang sangat sempit. Belum lagi perjalanan ke kantorpun memakan waktu lama karena macet. Sehingga selama 5 bulan lebih saya telat ke kantor setiap hari. Saya dapat surat teguran 2x akibat ketidakdisiplinan saya. Teman-teman kantor pun suka meledek dengan candaan yang kalau ditanggapi serius bisa membuat hati ini ingin teriak. Sungguh kerepotan sekali.


Selain itu, saya tidak pernah memiliki waktu untuk diri sendiri.Selama 5 bulan itu penampilan saya sangat 'natural' baik itu mau ke kantor atau ke kondangan. Saya kelihatan kusut sekali.
Sampai akhirnya, dengan berat hati saya menitipkan Joseph ke oppungnya selama 1 bulan di Siantar. Tapi pilihan saya itu bukanlah solusi sebab hampir setiap malam saya menangis karena merasa bersalah dan merindukan Joseph.
Saya yakin Joseph pasti dijaga dengan sangat baik oleh orang tua saya. Tapi dia adalah belahan hati saya. Bagaimana saya bisa tidur dan tertawa ketika anak saya tidak ada disisi saya? Selama satu bulan itu kondisi saya bukannya membaik. Saya merasa seperti kehilangan semangat dan suka cita. Saya merasa separuh diri saya ikut dibawa ke siantar. Inilah masa paling kelam dalam hidup saya. Saya berjanji selelah apapun fisik saya, ternyata tidak ada yang lebih baik dari kebahagiaan memeluk dan melihat senyum anak saya setiap hari. Walaupun waktu ketemu kami sedikit, tapi tidak ada yang dapat menggantikan kebersamaan walaupun hanya 2 jam setiap hari. At least, weekend I'm a full time mommy for him.

Desember 2012 saya putuskan pulang ke Medan/Siantar untuk menjemput anak saya. Saya merasa sangat bahagia ketika melihat dia sehat dipangkuan oppungnya. Ada perasaan sedih ketika dia menolak memelukku. Tapi dengan insting kami masing-masing, akhirnya dia memeluk saya dan menatap saya dengan sangat dalam. Seakan-akan mencoba mengingat wajah saya yang terasa familiar. "Yes, this is mommy my son... Ini mama tondiku...hasianku...". Kucium kening dan pipinya berulang-ulang sambil meneteskan air mata.

Saya berjanji dan bertekad bahwa tidak akan pernah berpisah dengan Joseph lagi. Hanya karena egois ingin mengambil waktu untuk diri sendiri, masa anakku harus kehilangan sentuhan dari mama dan papanya?

Dan dengan kehadiran Asih (dan Imah), janji saya dapat terwujud. Saya tau bahwa biaya yang saya keluarkan untuk mereka cukup besar. Namun itu sebanding dengan ketenangan hati dan kebersamaan yang saya harapkan setiap hari.

Terima kasih Asih. Apa yang kamu berikan lebih besar nilainya jika dibanding dengan materi apapun.

Terima kasih Tuhan..karena Engkau telah mengirimkan mereka untuk membantuku dalam menjalani kehidupan ini. Didiklah aku agar dapat memperlakukan mereka dengan adil.
Dan sentuhlah hati mereka agar selalu menyayangi anakku Joseph.. Dan jagalah Joseph selama kami orang tuanya berada di kantor.

Amin


Tuesday, April 30, 2013

Joseph, Forgiveness

"Do you know Joseph? Yea, the story of Joseph is one of most powerful stories in Bible, which teaching how the forgiveness and reconciliation in Joseph’s lives that involved God within. Joseph was betrayed and sold to Egyptian by his brothers. He grew in all godly way, bitterness and imprisoned! But, see, what he got above all those, he realized that  those were God’s will in his life — he became the 2nd people in Egypt (after Pharaoh) — who then saved the nation of Jacob."
 **taken from http://dumexpasaribu.com

Tidaklah sebuah kebetulan kami memilihkan nama Joseph untuk anak kami yang terkasih. Kami (dan saya pribadi tentunya), berharap dan berdoa bahwa anak kami akan memiliki kasih yang teramat besar kepada siapa saja, bahkan kepada mereka yang akan memberikan pelajaran hidup kepadanya kelak. Hidup tidak selalu mulus seperti yang diharapkan hampir semua orang. Terkadang (dan bahkan sering kali) kita dihadapkan kepada godaan akan kebencian dan perasaan dendam kepada mereka yang menorehkan luka kedalam hidup kita.

Sebagai manusia, saya sering sekali tergoda untuk membenci mereka yang telah memberikan luka-luka dan kekecewaan-kekecewaan dalam kehidupan, dan terutama bagi mereka yang memberikan luka dan kekecewaan yang paling dalam. Tetapi saya selalu berterima kasih kepada Yesus karena Dia selalu memegang teguh tangan saya dan selalu mengingatkan saya bahwa semua itu merupakan ujian dan cobaan dari Yesus yang bertujuan untuk mengangkat saya lebih tinggi lagi. Amen..
Sebagai manusia biasa, masih ada beberapa hal yang sedang dalam pergumulan saya sampai saat ini. Semoga Yesus berbelas kasih untuk menyentuh hati dan pikiran saya agar lebih menatap Dia yang terpaku di kayu salib, bukan menatap luka dan perasaan kecewa yang kuterima.

Sebagai orang tua, pastinya saya ingin memberikan yang terbaik untuk anak. Saya ingin dia tumbuh menjadi anak yang sehat, cerdas, kuat, dan selalu bersandar kepada Yesus didalam setiap perkara hidup. Dalam setiap suka dan duka harus selalu berserah kepada Yesus saja.

Joseph mama...jadilah seorang Joseph yang selalu mengandalkan Tuhan dalam setiap hidupmu nak.. Hiduplah penuh kasih, murah hati dan selalu melibatkan Tuhan dalam setiap perkara sama seperti Joseph yang tertulis didalam alkitab. Sepahit apapun cobaan yang datang kepadanya, dan sejahat apapun saudara-saudaranya kepada dia hingga tega menjual dia menjadi budak, tak sedikitpun ada rasa benci dan dendam kepada mereka. Bahkan, dia dengan penuh semangat dan sukacita mendatangi mereka ketika dia mengetahui ayah dan saudara-saudaranya datang ke Mesir karena musibah kelaparan yang melanda Mesir. Joseph tidak mendendam sama sekali. Dia menawarkan tempat tinggal dan makanan kepada mereka. Dia menemui mereka dengan suatu kerinduan yang sangat mendalam. Semua itu karena dia sangat mengasihi dan mempu memaafkan semua tindakan saudara-saudanya.

Sungguh luar biasa bukan?
Semoga saya juga dapat diurapi melalui kisah Joseph yang luar biasa ini. Dan terutama, semoga Tuhan selalu mengulurkan tangannya kepada saya agar saya kuat dan mampu menjadi panutan buat anak saya, Joseph.

Amen